Bos INDODAX Ungkap Arah Harga Bitcoin di Tengah Ketegangan Timur Tengah

apokabar.news – Gejolak geopolitik di Timur Tengah mulai memberi dampak pada berbagai pasar keuangan global, termasuk aset kripto. Di tengah situasi tersebut, pihak bursa kripto Indonesia memberikan pandangan mengenai pergerakan harga Bitcoin yang belakangan sangat fluktuatif.

Vice President INDODAX, Antony Kusuma, menyebut volatilitas yang terjadi di pasar kripto saat ini dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian global.

“Lonjakan dan koreksi dalam hitungan hari menunjukkan pasar sedang sangat headline-driven. Dalam situasi seperti ini, sentimen global dan dinamika kebijakan menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan aset berisiko, termasuk saham dan kripto,” ujarnya dalam keterangan resmi dikutip Kamis (5/3/2026).

Bitcoin Bergerak Cepat Ikuti Sentimen Pasar

Data dari CoinMarketCap menunjukkan harga Bitcoin mengalami pergerakan tajam dalam beberapa hari terakhir.

Pada akhir pekan lalu, Bitcoin sempat turun hingga sekitar US$63.100. Namun di awal pekan harga kembali melonjak hingga menembus US$70.000 sebelum akhirnya bergerak stabil di kisaran US$68.000.

Secara keseluruhan, kapitalisasi pasar kripto global saat ini berada di sekitar US$2,33 triliun.

Pasar kripto yang beroperasi tanpa henti selama 24 jam dinilai menjadi salah satu indikator paling cepat dalam mencerminkan perubahan sentimen investor di tengah kondisi global yang tidak menentu.

Konflik Timur Tengah Picu Sentimen Risk-Off

Ketegangan meningkat setelah konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu eskalasi di kawasan Timur Tengah. Situasi semakin memanas ketika Iran menutup Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia.

READ :  Airlangga: Perang AS-Iran Berpotensi Dorong Kenaikan Harga BBM di Indonesia

Selain itu, Iran juga melancarkan serangan balasan terhadap fasilitas milik Amerika Serikat di sejumlah negara Teluk, seperti Bahrain, Qatar, Kuwait, Irak, dan Uni Emirat Arab.

Ketegangan tersebut mendorong lonjakan harga energi global. Harga minyak dilaporkan sempat naik hingga US$80 per barel, sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi dan stabilitas pasokan energi dunia.

Di saat yang sama, permintaan terhadap aset safe haven juga meningkat. Harga emas global dilaporkan menguat hingga kisaran US$5.100 per troy ons, sementara saham teknologi Amerika Serikat hanya mengalami rebound terbatas.

Investor Diminta Hindari Keputusan FOMO

Menurut Antony, pada fase awal ketidakpastian global, investor biasanya memilih bersikap lebih berhati-hati dengan mengurangi risiko dan menjaga likuiditas.

Ia menilai keputusan investasi yang emosional justru berpotensi memperbesar kerugian di tengah volatilitas pasar yang tinggi.

“Dalam kondisi pasar yang tidak menentu, diversifikasi portofolio menjadi salah satu pendekatan yang banyak dilakukan, termasuk mengalihkan sebagian eksposur ke aset kripto yang lebih stabil seperti stablecoin Tether (USDT) atau USD Coin (USDC), atau aset kripto berbasis emas seperti Tether Gold (XAUT) yang tengah menguat, sembari tetap menjaga alokasi terukur pada aset utama,” jelas Antony.

READ :  Moskow Kecam Keras Kematian Khamenei, Putin Sebut Pelanggaran Hukum Internasional

INDODAX Dorong Investor Tetap Rasional

Sebagai platform pertukaran kripto terbesar di Indonesia, INDODAX menegaskan komitmennya untuk menjaga likuiditas, keamanan sistem, serta transparansi layanan di tengah dinamika pasar global.

“Di tengah dinamika geopolitik, disiplin manajemen risiko serta memiliki perspektif investasi jangka panjang tetap menjadi kunci untuk bersikap rasional dan adaptif menghadapi ketidakpastian global,” katanya.

Perusahaan juga terus mengedukasi para pengguna agar tetap melakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.

“Di saat pasar penuh tekanan makro seperti sekarang, strategi investasi bertahap atau Dollar Cost Averaging (DCA) tetap menjadi opsi paling bijak untuk memitigasi volatilitas,” kata Antony.

(Bal/net)