Parlemen Iran Dorong Penutupan Selat Hormuz, Pertamina Siapkan Rute Alternatif

Apokabar.news – Ketegangan di kawasan Timur Tengah mencapai titik didih baru menyusul laporan tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel beberapa hari lalu. Merespons peristiwa tersebut, Parlemen Iran kini mendesak pemerintah untuk mengambil langkah ekstrim yaitu menutup Selat Hormuz.

Langkah ini menandai potensi konfrontasi ekonomi paling serius sejak revolusi 1979. Meski parlemen telah memberikan dukungan politik, keputusan final blokade jalur pelayaran vital tersebut kini berada di tangan Dewan Keamanan Nasional Iran.

Dampak bagi Ketahanan Energi Nasional

Menanggapi memanasnya situasi di jalur pasokan minyak dunia tersebut, PT Pertamina (Persero) memastikan telah menyusun langkah mitigasi. Perusahaan pelat merah ini menyiapkan rute alternatif operasional kapal pengangkut minyak guna menjamin ketersediaan suplai di dalam negeri.

Pihak Pertamina menyatakan bahwa sistem logistik yang mereka miliki cukup fleksibel untuk menghadapi hambatan di titik tertentu. Selain diversifikasi rute, Pertamina memiliki beberapa sumber pasokan minyak mentah alternatif di luar kawasan terdampak.

“Kami memastikan bahwa pasokan energi ke Indonesia tetap aman,” tulis pernyataan resmi Pertamina. Saat ini, melalui Pertamina International Shipping, pemantauan berkala terus dilakukan terhadap kapal-kapal yang beroperasi di rute internasional untuk memastikan keamanan navigasi.

READ :  UMK Kabupaten Bekasi 2026 Terbaru

Titik Didih Logistik Global

Selat Hormuz bukan sekadar perairan sempit sepanjang 33 kilometer; ia adalah urat nadi ekonomi dunia. Data menunjukkan sekitar 22% pasokan minyak bumi dan 20% perdagangan gas alam cair (LNG) dunia bergantung pada jalur yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman ini.

Pada tahun 2022 saja, rata-rata 21 juta barel minyak per hari (bpd) melintasi selat ini. Pasar Asia merupakan konsumen utama, di mana China, India, Jepang, dan Korea Selatan menyerap 67% dari total volume tersebut.

Secara historis, Iran belum pernah benar-benar menutup total selat ini karena risikonya yang besar terhadap ekonomi mereka sendiri. Selama “Perang Tanker” (1980-1988) maupun ketegangan era Presiden Donald Trump (2018-2019), Teheran lebih memilih aksi terbatas seperti sabotase atau gangguan navigasi. Namun, tewasnya pimpinan tertinggi mereka diprediksi para analis dapat mengubah pendekatan terukur tersebut menjadi tindakan yang lebih drastis.

Keamanan Internasional dan Risiko Konflik

Wilayah utara selat dikuasai oleh Iran, sementara sisi barat berbatasan dengan Uni Emirat Arab (UEA) dan Oman. Kehadiran militer asing, termasuk Angkatan Laut AS dan anggota NATO, sudah lama disiagakan di kawasan ini untuk menjaga kelancaran perdagangan global.

READ :  Cara Cek Bansos PKH Lewat HP dengan Mudah dan Cepat

Sejarah mencatat perairan ini sangat rawan insiden berdarah. Pada 1988, kapal perang AS Vincennes pernah menembak jatuh pesawat penumpang Iran yang menewaskan 290 orang insiden yang disebut Washington sebagai kecelakaan. Di tahun 2010, kelompok yang terkait al-Qaeda juga pernah menyerang kapal tanker Jepang di wilayah yang sama.

Jika penutupan benar-benar direalisasikan oleh Teheran, dunia terancam menghadapi krisis energi global yang dipicu oleh terputusnya rantai pasok utama, yang pada akhirnya akan memaksa negara-negara konsumen mencari jalur alternatif di tengah ketidakpastian keamanan laut yang tinggi. (Dan/Net)